Connect with us

Kesehatan

5 Langkah aman Imunisasi di masa COVID-19, saran dokter anak

Published

on

ilustrasi (Foto: Freepik)

Memasuki tahun 2021, pandemi COVID-19 di dunia belum berakhir. Kasus baru pun masih terus bertambah.

Satu hal yang penting diperhatikan para orangtua adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan penularan berbagai penyakit terutama COVID-19 pada anak-anak.

Untuk itu, tetap berada di rumah dan hindari tempat-tempat umum atau keramaian, ajari anak kebiasan rajin mencuci tangan, dan kenakanlah masker saat harus melakukan aktivitas di luar rumah, menjadi langkah pencegahan terbaik saat ini.

Meskipun disarankan untuk tetap di rumah saja selama masa pandemi, namun pemberian imunisasi bagi anak jangan sampai terlewat.

Sangatlah penting untuk tetap melengkapi imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Menurut dr. Cynthia Rindang Kusumaningtyas, Sp.A, Dokter Spesialis Anak dari RS Pondok Indah – Puri Indah, hal ini bertujuan untuk melindungi si kecil terhadap berbagai penyakit menular lain selain COVID-19.

Semua vaksin yang tercakup dalam jadwal imunisasi boleh diberikan, terutama imunisasi dasar pada 18 bulan pertama kehidupan anak.

Jika kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan sesuai jadwal, maka imunisasi boleh ditunda dengan anjuran tidak lebih dari satu bulan dari jadwal.

Apabila anak harus ke rumah sakit untuk imunisasi, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua, saran dr. Cynthia:

  1. Pastikan anak selalu berada dengan jarak minimal 1-2 meter dengan orang lain di sekitarnya.
  2. Jagalah anak agar tidak menyentuh/memegang berbagai benda yang ada di dekatnya.
  3. Rajinlah mencuci tangan anak dengan benar menggunakan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer berbahan dasar alkohol selama minimal 20 detik.
  4. Pada anak yang berusia di atas 2 tahun, gunakanlah masker kain selama beraktivitas di luar rumah sesuai rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan rajin mengganti masker anak bila sudah mulai tampak basah atau kotor. Pada anak yang berusia di bawah 2 tahun dapat menggunakan faceshield atau kereta dorong yang di depannya memiliki penutup plastik.
  5. Jangan lupa untuk segera mandi hingga bersih dan mengganti baju anak setelah anak tiba kembali di rumah.

 

(Faunda Liswijayanti/femina.co.id)

Kesehatan

Pemkab Batubara Ikuti Apel Siaga TPK Serentak Se-Indonesia

Published

on

Wakil Bupati Batubara Oki Iqbal Frima,SE

BATUBARA –  Pemerintah Kabupaten Batubara mengikuti Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Nusantara Bergerak Tingkat Nasional.

Apel tingkat Nasional itu diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara virtual di Aula Rumah Dinas Bupati, Komplek Tanjung Gading Inalum, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Kamis (12/05/2022).

Kegiatan tersebut diikuti oleh Bupati  Batubara, Ir. H. Zahir diwakili Wakil Bupati Oky Iqbal Frima, S.E didampingi Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB), drg. Wahid Khusyairi.

Wakil Bupati diampingi  Wakil Ketua TP-PKK Batu Bara, DPRD Batu Bara, Kejari Batu Bara, Danramil 02/AP, Danramil 03/LP, Danramil 04/TL, serta para OPD.

Diadakannya kegiatan ini bertujuan agar angka stunting di seluruh Indonesia menurun, sehingga target BKKBN pada 2024 dapat mencapai 14 persen.

Sementara itu, Deputi BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd, menyampaikan tujuan tersebut agar angka stunting di seluruh Indonesia menurun, sehingga target BKKBN pada 2024 dapat mencapai 14 persen hingga dapat tercapai dengan baik.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, prevalensi stunting di Batu Bara sebesar 30,9%. Untuk menepis angka tersebut, perlu dilakukan penimbagan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) secara massal kepada lebih dari 90% balita. Hasilnya, angka stunting berada diangka 18,35%.

Wahid Khusyairi, Kadis Kesehatan P2KB Batubara mengatakan, hasil yang didapat dari penimbangan tersebut merupakan angka awal untuk memenuhi target nasional yakni 14 persen.

“Diharapkan dengan angka tersebut, Pemerintah Batubara akan menurunkan angka stunting sekitar 2% setiap tahunnya sampai tahun 2024. Ini langsung arahan Bupati Zahir kepada seluruh jajaran di lingkungan Dinas Kesehatan P2KB,” jelas Wahid.

Ia menambahkan bahwa Kabupaten Batubara memiliki 888 TPK yang akan bertugas mendata dan melakukan pendampingan pada calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga resiko tinggi stunting.

“Hadirnya TPK untuk memberikan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan kepada calon pengantin sehingga memenuhi syarat untuk menjadi calon pengantin yang sehat dan siap hamil, dan bayi yang dilahirkan terhindar dari stunting.” lanjut Wahid.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian data verifikasi dan validasi keluarga beresiko stunting oleh Wakil Bupati Oky bersama dengan Kadis Kesehatan. Hal tersebut menandakan bahwa TPK sudah resmi untuk bertugas di masing-masing daerah.

Acara Kemudian diakhiri dengan pemberian bantuan sembako kepada 10 orang yang merupakan keluarga beresiko stunting.

Dalam meningkatkan pelayanan aparatur pemerintah atas pelayanan publik terkhusus untuk penanganan stunting, Bupati Zahir selalu mengingatkan untuk melakukan pendataan yang akurat dan terupdate sehingga dapat mewujudkan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat yang sejalan dengan misinya.

Continue Reading

Kesehatan

8 Kebiasaan yang membuat wajah tampak lebih tua

Published

on

Ilustrasi wajah, penuaan kulit. (SHUTTERSTOCK/Evgeny Atamanenko)

JAKARTA – Beberapa kebiasaan hidup ternyata bisa membuat wajah tampak lebih tua dan kita bisa mengubahnya untuk hidup lebih bugar, awet muda, dan sehat.

Mengutip Mens Health, wajah yang menua adalah tanda yang paling diwaspadai oleh hampir setiap orang, di mana salah satunya berusaha disamarkan. Menurut American Society for Aesthetic Plastic Surgery biasanya itu disamarkan melalui krim, peeling, dan suntikan botox.

Namun, cara itu sebenarnya bisa ditinggalkan untuk menghindari ketergantungan dan fokus untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang membuat wajah tampak lebih tua.

Mengutip Eat This, Dr. Myles Spar, Chief Medical Officer of Vault Health mengatakan bahwa diri kita benar-benar memiliki kendali atas cara tubuh melakukan proses penuaan.

Berikut kebiasaan yang patut ditinggalkan karena bisa membuat wajah tampak lebih tua:

1. Tidak memakai tabir surya

Mengutip Mens Health, Dr. Joshua Zeichner, direktur penelitian kosmetik dan klinis di departemen dermatologi di Mount Sinai Hospital mengatakan bahwa paparan sinar UV menyebabkan radikal bebas yang merusak: Kolagen Elastin Sel kulit. “Hal itu menyebabkan penuaan dini pada kulit, dengan kerutan, bintik hitam, dan perkembangan kanker kulit.

Bahkan paparan sinar matahari dalam jumlah singkat setiap hari bertambah seumur hidup,” kata Dr. Zeichner. Perlu diketahui, kolagen dan elastin adalah protein dari dalam tubuh kita yang berperan menjaga kulit tetap kuat dan tangguh.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Dermatologic Surgery, menggunakan SPF 30 selama 12 minggu sudah cukup untuk secara nyata membalikkan tanda-tanda kerusakan kulit terkait UV, seperti tekstur dan pigmentasi yang tidak merata.

2. Kurang tidur

Mengutip Mens Health, kurang tidur dapat membuat wajah tampak lebih tua. Dr. Zeichner mengatakan bahwa sel-sel kulit kita berfungsi pada ritme sirkadian, mirip dengan siklus tidur-bangun yang membuat kita lelah di malam hari dan membangunkan kita di pagi hari.

Di malam hari, sel-sel kulit bekerja untuk memperbaiki kerusakan yang dialaminya di siang hari, seperti: Paparan sinar matahari Polusi Berjerawat. Kemudian, Dr. Zeichner mengatakan bahwa kurang tidur dapat mengurangi proses itu dan kulit kita menjadi tidak fresh. Kulit kita menjadi stres dan tidak dapat menyelesaikan proses perbaikan, yang pada akhirnya menyebabkan sel-sel kurang sehat dan penuaan dini.

Dianjurkan oleh para ahli bawah tidur ideal orang dewasa adalah sekitar 8 jam. Sebelum tidur, disarankan untuk menggunakan pelembap pada seluruh tubuh karena kulit kita bisa mengalami dehidrasi saat tidur. Kulit kering yang meradang akan tidak berfungsi dengan baik, membatasi kemampuannya untuk memulihkan dirinya sendiri dalam semalam, kata Dr. Zeichner.

3. Kurang makan buah dan sayur

Mengutip Mens Health, buah dan sayur mengandung banyak nutrisi penting, sehingga kurang makan buah dapat membuat wajah tampak lebih tua. CDC merekomendasikan orang dewasa makan setidaknya satu setengah hingga dua buah per hari.

Menurut American Academy of Dermatology (AAD), beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan makanan seimbang yang sarat dengan buah dan sayuran adalah penangkal penyakit, membantu mencegah kerusakan yang menyebabkan kulit menua terlalu dini. Itu karena buah dan sayuran penuh dengan nutrisi, seperti antioksidan dan vitamin, yang menjaga sel-sel kulit Anda tetap sehat.

Ulasan penelitian yang diterbitkan dalam catatan ISRN Dermatology telah menunjukkan vitamin E dapat berperan: Melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV Mengatasi masalah pigmentasi Mengurangi peradangan. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology menunjukkan vitamin A, C, dan B3 bagus juga untuk kulit karena: Membantu mencegah kerusakan kolagen Memproduksi dan mempertahankan elastisitas Mengurangi hiperpigmentasi.

Rekomendasi buah dan sayuran yang bermanfaat untuk kulit awet muda atau tidak tampak lebih tua adalah berdaun gelap seperti

Bayam

Ubi jalar

Jeruk

Paprika merah

Stroberi

Asparagus

Jamur.

4. Makan terlalu banyak gula

Mengutip Mens Health, makanan bertepung dan manis juga dapat menyebabkan berbagai masalah pada kulit wajah, yang membuat kita tampak lebih tua. Dr. Zeichner mengatakan bahwa makanan terlalu banyak gula meningkatkan kadar gula darah kita, yang dapat memicu peradangan dan memicu munculnya jerawat.

Memiliki banyak jerawat dapat menyebabkan kulit memiliki jaringan parut permanen karena kolagen yang rusak. Makan terlalu banyak gula juga dapat menyebabkan glikasi, suatu proses di mana molekul gula menempel pada kolagen atau blok bangunan utama kulit.

Hal tersebut membuat kolagen kulit keras dan kurang fleksibel, menyebabkan muncul kerutan dini. Menurut American Dental Association (ADA), lebih buruk lagi, minuman manis berwarna gelap, seperti soda dan kopi manis dapat merusak dan membuat plak gigi.

5. Merokok

Mengutip Mens Health, merokok tembakau dapat membuat wajah terlihat lebih tua dengan lebih cepat. Penelitian yang diterbitkan oleh Plastic and Reconstructive Surgery membandingkan fitur wajah dari 79 pasangan kembar, di mana salah satu kembarannya merokok atau merokok 5 tahun lebih lama dari pada kembaran satunya.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang merokok atau merokok lebih lama mengalami kantung mata yang lebih besar dan memiliki lebih banyak kerutan. “Merokok mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke kulit Anda dengan menyempitkan pembuluh darah dan memotong sirkulasi,” kata Dr. Zeichner.

Selain itu, tembakau sarat dengan bahan kimia yang dapat merusak kolagen dan elastin. Menurut ADA, merokok juga dapat menyebabkan masalah pada mulut karena dapat menyebabkan penyakit periodontal, yang dapat menyebabkan kerusakan gigi dan gusi. “Merokok telah ditemukan membahayakan hampir setiap organ tubuh dan sistem organ dalam tubuh,” kata American Cancer Society, menjadikannya penyebab utama kematian akibat kanker.

 6. Minum alkohol

Mengutip Mens Health, penelitian menunjukkan bahwa alkohol dapat menurunkan kadar antioksidan di kulit kita. Alkohol dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan radikal bebas pada sel-sel kulit, yang menyebabkan keriput, kata Dr. Zeichner.

AAD juga menyatakan bahwa alkohol membuat kulit dehidrasi, yang dapat membuat wajah kita terlihat kering dan kasar. Sehingga, alkohol bisa membuat wajah tampak lebih tua. Kemudian menurut CDC, minum alkohol terlalu banyak akan meningkatkan risiko masalah kesehatan yang serius, seperti: Penyakit jantung dan hati Depresi Kanker.

 7. Kurang minum air putih

Mengutip Mens Health, kurang minum air putih bisa membuat tubuh mengalami dehidrasi dan itu benar-benar dapat merugikan tubuh, karena kita bisa merasakan: Kehausan Kram otot Pusing. Kepala editor kesehatan dan medis ABC News, Dr. Richard Besser mengatakan kurang minum air putih juga bisa membuat kulit kita tampak lebih tua.

“Jika Anda mengalami dehidrasi, tubuh Anda akan menarik air dari jaringan Anda, dari kulit Anda untuk menjaga konsentrasi dalam darah Anda,” jelas Dr. Besser. “Ketika melakukan itu, mata Anda akan terlihat cekung, kulit Anda akan terasa lebih kering, tidak akan elastis, sehingga Anda akan terlihat jauh lebih tua,” terangnya.

Kebutuhan cairan tubuh bervariasi tergantung pada berat badan dan tingkat aktivitas. Namun, umumnya yang terbaik adalah menargetkan setengah dari berat badan kita dalam ons per hari sebagai titik awal.

Mengutip Kementerian Kesehatan, konsumsi air putih yang disarankan untuk orang dewasa, yaitu sekitar 8 gelas berukuran 230 ml per hari atau total 2 liter. Selain dari minuman, makanan juga dapat memberikan asupan cairan pada tubuh yaitu sekitar 20 persen. Cairan dari makanan terutama diperoleh dari buah dan sayur, misalnya bayam dan semangka yang mengandung 90 persen air.

8. Terlalu stres

Mengutip Mens Health, menurut sebuah penelitian pada 2004, stres jangka panjang memperpendek bagian dari kromosom kita yang disebut telomer. Telomer adalah segmen nukleotida yang terletak pada ujung kromosom sel eukariot dan berperan penting mencegah kerusakan dan degradasi kromosom.

Struktur ini secara alami memendek seiring bertambahnya usia. Namun, stres jangka panjang membuat telomer semakin pendek dan menyebabkan tubuh menua lebih cepat. Dr. Warren Willey merekomendasikan untuk mengatasi situasi stres dengan bermeditasi selama 10 menit sehari.

Kita tidak dapat mengendalikan banyak hal dalam hidup, jadi para ahli menyarankan untuk kita meluangka waktu untuk sekedar mengatur napas dan mengatur ulang waktu yang kita butuhkan. Mengutip Eat This, mediasi telah terbukti benar-benar mengubah otak dalam hal untuk menjaga kita tetap muda.

Sara Lazar, seorang ahli saraf di Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital, menemukan hubungan itu melalui penelitian yang melibatkan pemindaian otak para meditator. (sumber:kompas.com)

 

Continue Reading

Kesehatan

Mengenal obat Covid Molnupiravir, yang disebut Menkes Budi akan digunakan tahun depan

Published

on

Obat Covid-19 molnupiravir yang diproduksi perusahan farmasi Merck, Sharp & Dohme. Obat antivirus ini dilaporkan dapat menekan risiko masuk rumah sakit atau kematian karena Covid-19 hingga 50 persen. Obat ini pun sudah dilirik banyak negara, termasuk Indonesia.

JONEWS.ID – Sebagai salah satu langkah antisipasi lonjakan kasus Covid-19 di akhir tahun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berencana mendatangkan obat Covid-19 Molnupiravir. Sebelumnya, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA) telah menyetujui penggunaan obat molnupiravir buatan Merck, Sharp & Dohme (MSD) pada Kamis (4/11/2021).

Sementara saat ini, Budi mengatakan obat tersebut masih menunggu izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat.

“Molnupiravir diharapkan akhir tahun bisa tiba di Indonesia, dan kita siap menggunakannya untuk tahun depan,” kata Budi dalam konferensi pers secara virtual soal evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021).

Sebelumnya diberitakan, Indonesia akan membeli 600.000 hingga 1 juta pil Molnupiravir buatan Merck yang diklaim sebagai obat Covid-19. Budi mengatakan, saat melakukan kunjungan ke Amerika Serikat beberapa waktu, ia sudah melakukan kerja sama dengan pihak Merck.

Dijelaskan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, obat molnupiravir adalah obat oral antivirus atau obat antivirus yang diminum. “Molnupiravir obat antivirus yang dulunya dikembangkan oleh Emory University.

Itu mereka sebetulnya mau mencari obat untuk ensefalitis virus (kondisi peradangan otak yang disebabkan virus, red),” jelas Zullies kepada Kompas.com, Selasa (5/10/2021). Ia melanjutkan, ketika obat ini dikembangkan, kemudian pandemi Covid-19 menyelimuti seluruh dunia, maka akhirnya, obat yang tadinya dikembangkan untuk obat ensefalitis itu diramu lagi untuk diujikan ke virus corona SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Selain Emory University, perusahaan farmasi Merck, Sharp & Dohme (MSD) dan Ridgeback Biotherapeutics juga terlibat dalam pengembangan obat molnupiravir. Mulai dari awal, hingga uji klinis 1, 2, dan 3. “Kemudian diujikan ke Sars-CoV-2 dan ada potensi secara in vitro dan in vivo,” ungkap Zullies.

(sumber: kompas.com)

Continue Reading

Trending