Connect with us

Peristiwa

Masjid di Jerman gelar “Iftar To Go”

Published

on

Relawan Turki Goecen Muelayim (kiri) dan Ural Hasan, dari layanan pengiriman makanan "Iftar To Go" di masjid Ditib, Wuppertal, jerman (foto: voaindonesia)

Ramadan kembali berlangsung saat Jerman masih didera pandemi COVID-19. Negara itu, saat ini, bahkan masih memberlakukan lockdown sebagian.

Namun, itu tak menghalangi niat sebuah komunitas Muslim di Wuppertal, Jerman, untuk membantu mereka yang kesulitan selama bulan suci itu.

Banyak restoran tutup, orang-orang dilarang berkumpul, dan ada pembatasan bergerak setelah jam tertentu. Semua itu membuat kegiatan berbuka puasa, atau iftar, sulit bagi banyak Muslim di Jerman.

Komunitas Muslim di masjid Ditib di Wuppertal, Jerman, berusaha mengatasi masalah ini dengan menyelenggarakan program “Iftar To Go”, yang pada intinya menyediakan makanan malam siap santap gratis bagi siapa saja, tak hanya Muslim, selama Ramadan.

Program ini pernah digelar tahun lalu, dan banyak mendapat sambutan. Tahun ini, menurut panitianya, permintaannya lebih besar karena pandemi telah mengakibatkan semakin banyak orang mengalami kesulitan finansial.

Mustafa Temizer adalah ketua panitia “Iftar To Go“. “Ini edisi baru dari tahun lalu. Tahun lalu kami memulainya pertama kali karena adanya pembatasan terkait wabah virus corona. Tahun ini kami juga banyak mendapat permintaan, bahkan harus menambah jumlah makanan.

Orang-orang yang bersedia menyumbangkan uang mengatakan, mereka akan dengan senang hati mendukung program ini. Jadi, ketika kami menyadari bahwa pandemi belum berakhir, kami memutuskan sejak awal untuk melanjutkannya,” jelasnya.

Bagi komunitas Muslim di Wuppertal, atau Jerman pada umumnya, mencari makanan untuk berbuka puasa pada saat ini tidaklah mudah.

Pandemi menghalangi mereka ke luar rumah karena adanya peraturan jam malam. Selepas pukul 7 malam waktu setempat, mereka dilarang berkeliaran di luar rumah, meski matahari baru akan terbenam atau saat azan magrib dikumandangkan, satu jam kemudian.

Komunitas Muslim ini tidak hanya menyediakan layanan ambil, tapi layanan antar makanan. Panitia menyediakan petugas yang siap mengirim makanan ke keluarga-keluarga yang membutuhkan sepanjang mereka memesannya terlebih dahulu.

Pada tahun ini mereka berencana akan membagikan 12.000 paket makanan selama 30 hari ke depan, 2.000 lebih banyak daripada tahun 2020. Paket makanan itu dapat diambil di bekas pom bensin di seberang masjid Ditib atau bagi mereka yang tidak dapat keluar, atau memilih tidak ke luar rumah, makanan mereka dapat diantar oleh salah seorang sukarelawan.

Temizer mengatakan setengah dari jumlah paket makanan yang diantar umumnya untuk mereka yang sudah lanjut usia dan berhalangan datang. Ia menegaskan, makanan yang mereka sediakan tidak hanya untuk warga Muslim.

“Jika Anda membutuhkan atau jika Anda hanya ingin mendapatkan pengiriman makan iftar, itu sudah cukup. Kami tidak mempersoalkan kewarganegaraan, kami tidak mempersoalkan agama, kami hanya meletakkan makanan di depan pintu rumah Anda dan pergi,” kata Temizer.

Warga Muslim, seperti Hassan Moustafa, menyambut uluran tangan komunitas Muslim di masjid di Ditib. “Sangat praktis bagi saya. Hanya mengambil makanan. Saya menghemat waktu karena tidak harus menyiapkannya di rumah. Praktis sekali,” komentarnya. 

 

(ab/uh/voaindonesia)

Peristiwa

Seorang pria ditemukan tewas di tukang pangkas

Published

on

Mayat Korban

“ Polisi membawa korban ke RS Bhayangkara dan melakukan visum luar sekira pukul.17.30 Wib, tidak ada tanda tanda kekerasan benda tajam dan tumpul,  korban mengalami luka dibagian pelipis sebelah kiri akibat jatuh dalam posisi tersungkur

| Kassubag Humas Polres Tebingtinggi, AKP Agus Arianto

 

TEBINGTINGGI – Seorang pria berusia 57 tahun bernama Tengku Irwansyah ditemukan meninggal disebuah tukang pangkas  rambut di Jalan SM Raja LK II Kelurahan Pasar Gambir Kecamatan Tebingtinggi Kota, Tebingtinggi Kamis(21/4) pukul.17 WIB.

Kassubag Humas Polres Tebingtinggi, AKP Agus Arinto mengatakan, jenazah korban pertama kali ditemukan oleh Sofian (36) warga Jalan Wiraswasta LK IV Kelurahan Karya Jaya Kecamatan Kecamatan Rambutan Tebingtinggi usai pulang dari shalat Ashar,” Sebelumnya korban tidak ada saat Sofian pergi beribadah sekira pukul.16.00 WIB.”jelas Agus

Agus menceritakan pengakuan Sofian yang kaget saat melihat ada seorang pria tak dikenal berada di lantai lokasi pangkas dalam posisi telungkup yang berdarah dibagian kepala.Dia memberitahu kejadian itu kepada Hj. Syamsinar Lubis dan melapor ke Polisi.

Polisi membawa korban ke RS Bhayangkara dan melakukan visum luar sekira pukul.17.30 Wib, tidak ada tanda tanda kekerasan benda tajam dan tumpul,  korban mengalami luka dibagian pelipis sebelah kiri akibat jatuh dalam posisi tersungkur,” terang Agus.

Identitas korban diketahui dari sang istri yang bercerita tentang penyakit stroke ringan yang diderita korbana bertahun lamanya. Korban kini disemayamkan dirumah duka di  Jalan Tengku Hasyim Lk. II Kel. Bandar Sono Kec. Padang Hulu Kota Tebingtinggi, usai membuat surat pernyataan tidak dilakukan autopsi.(red)

Continue Reading

Peristiwa

Korban banjir: Derasnya air seperti Tsunami

Published

on

Bercerita sambil mencuci, korban mengharapkan bantuan pangan cepat saji

” Nggk pernah masjid kemasukan air,  seperti tsunami gitulah bang derasnya aliran secara tiba tiba itu, tidak ada yang beribadah jadinya,”| Korban banjir di Kelurahan Persiakan, Yana

JONEWS.ID – Meluapnya air berskala besar dari sungai Bahilang terjadi pada Minggu (21/11/2021) usai Shalat Dzuhur sekira pukul 13.30 WIB.

Tanpa henti, air terus mengalir deras. Waktu terparah terjadi pada Minggu (21/11/2021) hingga menjelang malam.

Derasnya tekanan itu membuat kaget ribuan KK di Kelurahan Persiakan dan Tualang khususnya.

Kondisi itu hanya bisa menyelamatkan sejumlah harta benda yang mampu diraih.

Situasi itu diungkap Yana (48). Saat bincang bincang bersama okeseru.com, korban banjir di Kelurahan Persiakan itu mengaku kebingungan.

Kejadian spontan itu, menurutnya  hanya mampu menyelamatkan diri dan mengambil surat surat penting dan alat elektronik yang mampu diraihnya.

” Airnya deras bang, bingung kami semua, apa adanya ajalah yang dapat diselamatkan, banyak yang kena air, seluruh perabotan rumah dllnya,” keluhnya pada Senin (22/11/2021).

Tsunami

Kejadian itu dikatakan Yana terparah dalam sejarah banjir daerah itu. Pasalnya, masjid disebelah rumah Yana dengan ketinggian 1 meter lebih kemasukan air sebatas mata kaki.

Nggk pernah masjid kemasukan air,  seperti tsunami gitulah bang derasnya aliran secara tiba tiba itu, tidak ada yang beribadah jadinya,” papar Yana.

Ibu Rumah Tangga itu terus bercerita, menjelang malam, ketinggian air semakin naik hingga separuh pintu rumahnya. Sungguh kekhawatiran hebat menyelimuti keluarga hati Yana ketika itu.

” Senin (22/11/2021) pukul 01.00 dini hari masih belum surut, alhamdulullah jam 3.00 an surut airnya,” jelas Yana.

Bersama Juli (42) warga Tualang rekan Yana saat berkunjng ke rumahnya bercerita duka selama banjir melanda rumahnya.

” Banjir ini lebih parah dari sebelumnya, apapun dah nggk ada, beras dll nya basah semua, uangpun apa adanya,” keluhnya.

Bersama korban lainnya, mereka berharap  Pemerintah dapat melakukan respon cepat atas bencana itu.

” Saat ini, bantuan pangan cepat saji siap makan sangat diperlukan, hanya untuk bertahan makan sembari menata,” harap mereka.

(ramzsi)

Continue Reading

Peristiwa

Emak-emak party tak bermasker, Gubsu geram

Published

on

(foto: tangkapan layar video viral)

MEDAN – Sekelompok emak-emak menggelar pesta sambil berjoget tanpa masker di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi pun geram dibuatnya.

Emak-emak berpesta itu terungkap setelah videonya viral di media sosial. Pesta itu diduga digelar di salah satu hotel mewah di Medan.

‘Pamer Bojo’

dilansir dari detik.com pada Jumat (23/4/2021), video itu menunjukkan sejumlah wanita berada di sebuah hotel. Di atas panggung yang ada di lokasi, terlihat ada yang sedang menari diiringi musik.

Emak-emak itu terlihat memakai kostum berwarna putih dan cokelat muda. Ada juga meja-meja yang terlihat ditata di lokasi itu.

Wanita-wanita itu terlihat tidak menggunakan masker. Mereka juga terlihat berkumpul tanpa menjaga jarak. Emak-emak itu juga terlihat berjoget di depan panggung diiringi lagu ‘Pamer Bojo’.

Ada juga terlihat aktivitas bagi-bagi uang di lokasi. Bahkan, mereka terlihat sempat saling berebut saat bagi-bagi uang dilakukan dan membuat orang-orang berkerumun.

Tindakan tetap berjalan

Gubsu Edy pun kemudian angkat bicara. Edy mengatakan peristiwa itu pasti melanggar aturan protokol kesehatan pencegahan penularan virus Corona (COVID-19). Dia juga memastikan akan menegur pihak hotel karena peristiwa itu.

“Yang pasti melanggar. Untuk itu, nanti kita tegur, kita cek, hotelnya nanti persoalan dengan Satgas,” ucap Edy.

Edy mengatakan hingga saat ini tidak ada pelonggaran dalam hal mematuhi protokol kesehatan di Sumut. Namun menurutnya saat ini masyarakat sudah bosan untuk terus mengikuti protokol kesehatan.

“Tidak kendur, hanya karena 1 tahun 3 bulan kita agak bosan, diingatkan balik kembali, jangan bosan-bosan,” tuturnya.

Edy mengatakan persoalan protokol kesehatan ini harus tetap dipatuhi karena sudah diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) hingga Peraturan Gubernur (Pergub). Dia mengatakan akan ada hukuman bagi yang nekat melanggar.

“Tindakan tetap berjalan. Aturan dikhianati, dilanggar, ada hukumannya. Inpres, Perda Pergub ini nanti berjalan,” jelas Edy

Sementara, Juru bicara Satgas COVID-19 Sumut Aris Yudhariansyah mengatakan pihaknya masih menyelidiki peristiwa itu. Dia enggan menyebut detail hotel yang menjadi lokasi.

“Akan kita tindak lanjuti informasi ini. Kalau terbukti melanggar Pergub Nomor 34 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease, akan kita berikan sanksi tegas,” ucap Aris.

 

(mae/isa/detik.com)

Continue Reading

Trending